NEWS

Sejarah, Koleksi dan Waktu Buka Museum Wayang Jakarta

Sejarah Museum Wayang Jakarta

Jejaksindo.com – Museum Wayang Jakarta merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Sebelumnya, Museum Wayang di DKI Jakarta hancur total akibat gempa dahsyat.

Museum Wayang di DKI Jakarta tepatnya berada di kawasan Jakarta Barat.Museum Wayang terdaftar sebagai situs warisan budaya Indonesia.

Museum Wayang merupakan tempat yang tidak hanya sebagai obyek rekreasi.

Di sana kita bisa melakukan penelitian untuk mahasiswa dan sarjana, bahkan bisa digunakan sebagai pusat pembelajaran, pusat penelitian dokumentasi dan wayang, dan juga bisa digunakan sebagai media pengetahuan budaya antar daerah dan antar masyarakat.

Siapa yang meresmikan gedung Museum Wayang ?

Museum Wayang dibangun pada tahun 1912, sebelumnya adalah sebuah istana gereja yang dibangun pada tahun 1640 bernama de Oude Hollandsche Kerk.

Bangunan yang dulunya gereja, hancur total akibat gempa. Kemudian diperbaiki pada tahun 1732 dan berganti nama menjadi de Nieuw Hollandsche Kerk.

Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen, sebuah lembaga pengetahuan dan budaya Indonesia, membeli gedung tersebut.

Bangunan tersebut kemudian diserahkan kepada Stichting Oud Batavia pada tanggal 22 Desember 1939 untuk digunakan sebagai museum dengan nama Museum Oude Bataviasche.

Sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1957, gedung ini diambil alih oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Kemudian pada tanggal 17 September 1962 diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan pada tanggal 23 Juni 1968 diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta untuk digunakan sebagai Museum Wayang.

Sejarah Museum Wayang Jakarta

1. Gereja Salib atau Church de Oude Hollandsche Kerk (1640)

Menurut laman Ensiklopedia Jakarta Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, tanah yang kini berdiri Museum Wayang ini dulunya adalah gereja bernama Gereja Salib atau Gereja Tua Belanda “de Oude Hollandsche Kerk”.

Gereja ini aktif digunakan dari tahun 1640 hingga 1732. Baru pada tahun 1733 gereja ini dibongkar dan diperbaiki.

Apakah bangunan gereja ini langsung menjadi museum? Tidak.

Gereja Salib diperbaiki karena bahan bangunan yang didatangkan langsung dari Belanda tidak bisa dipasang di dalamnya.

Akhirnya, mereka mengubah gereja tersebut menjadi Gereja Belanda Baru “de Nieuw Hollandsche Kerk”.

2. Gereja Belanda Baru New Holland Kerk (1736)

Gereja Belanda yang baru “de Nieuw Hollandsche Kerk” menjulang 40 meter di atasnya dengan atap kubah. Gereja ini mulai difungsikan pada tahun 1736.

Baca Juga  Cara Setting Autofill Google Chrome dan HP Android Agar Password Tidak isi otomatis

Namun ketika gempa bumi melanda pada tahun 1739, salah satu sisi temboknya retak. Akhirnya, pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Dendels memerintahkan penjualan gedung gereja berbentuk segi delapan.

Meskipun banyak gereja yang bersedia membayar untuk perbaikan. Di area gereja juga terdapat banyak makam pejabat tinggi Belanda dan 18 gubernur jenderal VOC, serta tokoh penting Belanda lainnya, termasuk Jan Pieterszoon Cohen, yang makamnya ditemukan pada tahun 1934/1935.

3. Kantor Geo Wehry en Co. (1857)

Pada tahun 1857 Geo Wehry en Co. berhasil menggunakan tanah bekas gereja induk, dan membangun gudang dan kantor di atasnya.

4. Monumen Bersejarah (1936)

Pada tahun 1912, fasad bangunan bekas gereja dibangun dengan gaya neo-Renaissance, mirip dengan rumah tua Batavia, dan pada 14 Agustus 1936, pemerintah Hindia Belanda mendeklarasikannya sebagai monumen.

Kemudian, pada tahun 1937, asosiasi ilmiah Belanda Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen membeli gedung bekas Gereja New Holland, serta tanah di sekitarnya.

Bahkan bangunan ini pun dibedah dan disesuaikan dengan gaya rumah saat itu.

5. Museum Batavia Lama (1938)

Setelah dibuka, bangunan ini diberikan kepada Stichting Oud Batavia untuk digunakan sebagai museum, yang diberi nama Museum de Oude Bataviasche atau Museum Batavia Lama setelah selesai dibangun.

6. Pendudukan Jepang (1942)

Pada masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, bangunan museum tidak terawat sama sekali karena pada saat itu fokus para pemimpin nasional adalah perjuangan kemerdekaan sebagai negara berdaulat.

7 Museum Jakarta (1957)

Dua belas tahun setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, lebih tepatnya tahun 1957, pemerintah mengalihkan pembangunan Museum Batavia Lama kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Namanya diubah menjadi Museum Jakarta Lama, yang kemudian menjadi Museum Jakarta pada 1 Agustus 1960.

8. Museum Wayang (1975)

Kemudian pada tahun 1968 Museum Jakarta diambil alih oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan menjadi Museum Wayang.

Tujuh tahun kemudian, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadykin membuka Museum Wayang pada 13 Agustus 1975.

Apa saja yang ada di Museum Wayang?

Koleksi Museum Wayang Jakarta

Koleksi Museum Wayang Jakarta
Koleksi Museum Wayang Jakarta

Di Museum Wayang Jakarta, pengunjung dapat melihat berbagai jenis wayang , baik wayang Indonesia maupun berbagai koleksi wayang dan wayang dari luar negeri.

Baca Juga  14 Jenis Tanaman Hias yang Sedang Populer

Kebanyakan wayang kulit Indonesia berasal dari Jawa, namun ada juga yang berasal dari Palembang, Banjarmasin, Bali dan Lombok.

Wayang merupakan sebuah pertunjukan yang mengandung nilai-nilai filosofis tinggi kehidupan manusia yang dikemas dalam bentuk visual sebagai tontonan, tuntunan dan ketertiban.

Saat Anda memasuki museum, Anda bisa merasakan suasana klasik dengan latar belakang suara gamelan. Museum Wayang memiliki banyak koleksi wayang dengan total koleksi 6.800 buah per Juni 2022.

Pada intinya, koleksi di museum ini mewakili aspek sejarah salah satu budaya Indonesia. Berbagai jenis koleksi mulai dari Wayang Kulit, Wayang Beger, Wayang Klitik, Wayang Boger hingga Wayang Golek menghiasi setiap sudut dinding Museum Wayang.

Selain wayang wayang, ada koleksi lain yaitu arca Blenkong, wayang Si Uniil, serta lukisan dan topeng. Di tempat ini juga terdapat alat musik tradisional Jawa yaitu gamelan.

Kemudian museum ini memiliki Wayang Intan yang sudah ada sejak tahun 1870 dari Muntilan, Jawa Tengah dan merupakan salah satu wayang tertua di museum ini.

wayang dibuat lengkap dengan instrumen gamelan. Namun, wayang intan ditampilkan terpisah dari gamelan karena gamelan tersebut dipadukan dengan alat musik lainnya.

Jika Anda berkunjung ke museum ini, Anda akan mengenal dan melihat koleksi wayang kulit, wayang golek, wayang dan koleksi wayang dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Suriname, China, Vietnam, Perancis, India dan Kamboja, termasuk koleksinya set gamelan, serta lukisan. wayang.

Selain koleksi wayang di museum ini, Anda juga bisa melihat koleksi piring sebagai batu nisan Jan Pieterszoon Cohen.

Museum ini juga secara rutin menyelenggarakan pertunjukan teater wayang dan lokakarya pembuatan wayang . Karena itulah Museum Wayang Jakarta bisa menjadi tempat yang tepat bagi Anda dan keluarga untuk menambah wawasan.

Pergelaran Wayang Kulit

Pergelaran Wayang Kulit
Pergelaran Wayang Kulit

Wayang kulit dari luar Jawa seperti wayang kulit dari Palembang bernama Rama Vijaya, Devi Sinta dan Vibisana.

Wayang kulit baru masuk ke Palembang pada tahun 1900-an yang merupakan budaya budidaya seni wayang Jawa.

Hal ini karena pada dasarnya budaya Palembang dan Jawa memiliki kesamaan tertentu.

Perbedaan antara wayang kulit Palembang dan Wayang Jawa terletak pada dialog yang menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Baca Juga  Di Banjiri Ribuan Pengunjung, Festival Baluluak Bajarami Nagari Kumango

Wayang kulit asal Palembang ini memiliki warna yang cukup cerah.

Selain itu, terdapat koleksi wayang kulit Banjar dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang terdiri dari Yudistira, Bima Sena, Harjuna Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Wayang -wayang tersebut dihias dengan motif artistik dari Banjarmasin, sehingga sepertinya koleksi ini bukan berasal dari Jawa.

Kisah wayang kulit Banjar diambil dari dua kitab Hindu kuno: Ramayana dan Mahabharata.

Selain itu juga terdapat koleksi wayang kulit dari Bali yang terdiri dari Pandawa lima yaitu Yudistira, Bima Sena, Harjuna, Nakula dan Sadeva.

Wayang kulit ini menggunakan kain dengan motif poleng, yang melambangkan keseimbangan antara dua hal yang berlawanan.

Ada juga wayang kulit dari Lombok yang disebut Wayang kulit sasak. Wayang ini pada dasarnya mengambil kisah Menak, yang berasal dari kisah Amir Hamsa, paman Nabi Muhammad.

Dengan kata lain wayang ini memiliki sejarah bernuansa Islam, dibuat pada tahun 1955 dan menjadi koleksi Museum Wayang pada tahun 1976.

Alamat museum wayang

Lokasi: Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Pinangsia, RT 3/RW 6, Kota Tua, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110.

Jam operasional Museum Wayang Jakarta : Selasa s/d Minggu, pukul 09.00-15.00 WIB.

Harga Tiket masuk museum wayang :

  • Anak-anak: Rp 2.000
  • Mahasiswa: Rp 3.000
  • Dewasa: Rp 5.000

Dengan harga tiket yang sangat terjangkau membuat tempat ini ramai dikunjungi antara 300 hingga 500 pengunjung saat liburan sekolah.

Museum Wayang memamerkan lebih dari sekadar wayang , patung, dan lukisan. Ada juga workshop Wayang Janur yang dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000.

Setiap hari Minggu, museum ini menyelenggarakan pertunjukan wayang, yang dapat Anda tonton secara gratis.

Pencarian Terkait

Related Articles

Back to top button