InvestasiInvestasi EmasInvestasi Reksa DanaKeuangan

Hukum Investasi Dalam Islam Dan Jenisnya

Hukum Investasi Dalam Islam

Jejaksindo.comHukum investasi dalam Islam memiliki bentuk yang spesifik tergantung pada jenis investasi yang ingin Anda lakukan.

Salah satu investasi yang dianjurkan bagi umat Islam adalah berinvestasi emas.

Jurnal Asriani “Investasi Emas Syariah dari Perspektif Hukum Islam” menjelaskan bahwa berinvestasi emas sudah memiliki ketentuan dan dasar hukum.

Tepatnya diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor 77/DSN-MUI/VI/2010 tentang Jual Beli Emas Untuk Pembayaran Non Tunai.

Investasi emas ini merupakan model tabungan emas. Prinsipnya hampir sama dengan tabungan lainnya, namun tidak dikenakan bunga karena sistemnya menggunakan metode Syariah.

Selain emas, ada beberapa jenis investasi lain yang direkomendasikan.

Hal ini karena hukum investasi dalam Islam masih membolehkan selama berpedoman pada ajaran Islam.

Jadi apa hukum investasi dalam Islam? Simak pembahasan berikut.

Dasar-dasar Hukum Investasi dalam Islam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “investasi” berarti penanaman uang atau modal untuk tujuan memperoleh keuntungan.

Investasi merupakan salah satu bentuk usaha untuk menghasilkan pendapatan.

Investasi bisa melakukan segalanya. Namun bagi yang beragama Islam tentunya harus mengikuti aturan-aturan yang sesuai dengan syariat atau syariat Islam.

Perlu diketahui bahwa Islam menggunakan 4 sumber hukum Islam. Sumber hukumnya adalah Alquran, hadits, ijma, dan qiyas.

Sumber hukum inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk melakukan berbagai tindakan. Termasuk menjelaskan dasar hukum berinvestasi dalam Islam.

Mengutip jurnal ilmiah “Berinvestasi dalam Perspektif Ekonomi Islam: Pendekatan Teoritis dan Empiris”, kegiatan investasi merupakan bagian dari fiqh muamal.

Artinya, investasi tetap bisa dilakukan jika tidak ada argumentasi yang menentangnya.

Beberapa ayat di dalam Al-Quran sudah memberikan gambaran tentang cara berinvestasi, contohnya seperti Surat Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Baca Juga  7 Jenis Investasi Jangka Pendek Untuk Pemula ! Cepat Dapat Cuan

Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Menurut tafsir Kementerian Agama (Kemenag), ayat di atas menjelaskan tentang pahala ganda bagi orang yang berqurban di jalan Allah.

Jika ada orang yang bersedekah, maka ia akan dibalas dengan pahala yang baik hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari yang dikehendaki Allah, tergantung tingkat keimanan dan keikhlasan hati si pemberi.

Hal ini dijelaskan dalam buku Investing in Islamic Financial Products (Yuliana: 2010), meskipun tidak membahas investasi secara rinci, ayat tersebut memang menyampaikan pentingnya berinvestasi. Dalam hal ini, menjelaskan betapa beruntungnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Dari sudut pandang ekonomi, hal ini sudah  jelas akan mempengaruhi kehidupan di dunia.

Sebenarnya ajaran Islam mengatur jenis usaha (termasuk investasi) apa yang boleh dan mana yang tidak.

Selama investasi tersebut bebas dari hal-hal yang dianggap haram.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Investasi Syariah dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia, investasi yang dilakukan oleh investor muslim diperlukan untuk menghindari unsur haram.

Karena yang diharamkan adalah yang diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Apa Itu Investasi Syariah ?

Investasi yang direkomendasikan untuk Muslim didasarkan pada Syariah.

Mengutip NU Online, Investasi Syariah adalah suatu usaha investasi dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan, dengan skema bagi hasil dan pembagian kerja sesuai prinsip Syariah.

Investasi menurut syariah harus bebas dari transaksi riba, jauh dari unsur gharar, ghabna, maysir dan jahal.

Hukum investasi dalam Islam diperbolehkan asalkan sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah.

Masih mengutip NU Online, praktik investasi syariah sering menggunakan istilah akad kirad, yaitu dengan cara kemitraan (wasilah sirqah).

Baca Juga  6 Jenis Investasi Syariah Yang Paling Menguntungkan

Berdasarkan pertimbangan lebih lanjut, suatu perjanjian dapat disebut sebagai perjanjian investasi syariah jika memenuhi beberapa syarat.

Kondisi tersebut antara lain:

  • Memiliki perjanjian atau perjanjian kontrak yang berisi kapan kerjasama antara kedua belah pihak berakhir.
  • Ada objek kontrak yang disebut amal atau tanah untuk pembagian pekerjaan. Bagian ini sangat penting, karena jika tidak ada lahan untuk mengarahkan pekerjaan ini, maka produk tersebut tidak bisa disebut sebagai investasi.
  • Bentuk pencapaian aset atau produk harus jelas terukur dan disepakati. Misalnya, seperti berinvestasi di real estate rumah.
  • Ada nisbah bagi hasil yang disepakati.
  • Ada dua pihak yang bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu. Kedua pihak ini terdiri dari pemilik modal atau rabbul mal dan pihak pelaksana akad (amil).
  • Modal yang diserahkan oleh pemilik modal harus diserahkan sepenuhnya kepada mudharib (pengelola) untuk pengelolaan dan interpretasi.

Produk Investasi Syariah

Saat ini banyak sekali produk investasi syariah. Menurut definisi, investasi syariah adalah kegiatan investasi berdasarkan prinsip dan hukum syariah Islam.

Menurut situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berikut beberapa produk investasi syariah yang bisa digunakan seorang muslim untuk mulai berinvestasi:

1.Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah merupakan salah satu produk investasi berbasis syariah di Indonesia.

Bahkan kerangka hukumnya diatur oleh Bapepam-LK selaku regulator pasar modal di Indonesia dalam beberapa aturan khusus mengenai pasar modal syariah.

Misalnya, Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Surat Berharga Syariah, dan Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Kontrak yang Digunakan. dalam penerbitan surat berharga syariah. .

Secara umum, pasar modal syariah tidak berbeda jauh dengan pasar modal konvensional.

Hanya ada beberapa ciri yang membedakannya, yang utama adalah produk dan mekanisme transaksi di pasar modal syariah tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Baca Juga  10 Tips Investasi Pasar Modal untuk Investor Pemula

2. Reksa Dana Syariah

Secara umum, ada beberapa perbedaan antara reksa dana syariah dan reksa dana konvensional.

Namun yang jelas reksa dana syariah menerapkan aturan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Reksa Dana Syariah adalah platform untuk investasi kolektif. Kemudian dikelola oleh seorang manajer investasi dengan menginvestasikan dana yang dikelolanya pada surat berharga syariah dalam bentuk saham syariah, sukuk atau instrumen syariah lainnya.

3. Sukuk

Sukuk adalah surat berharga syariah yang berupa sertifikat atau bukti kepemilikan.

Menurut Peraturan Bapepam dan LK No. IX.A.13, sukuk adalah sertifikat atau sertipikat hak yang mempunyai nilai yang sama dan merupakan bagian yang tidak terbatas (tidak dapat dibagi atau tidak dapat dibagi lagi menjadi harta berwujud tertentu, nilai manfaat dari suatu harta berwujud tertentu, sebagaimana yang ada dan yang sudah ada) akan, layanan yang ada dan yang akan datang, dan seterusnya.

Investasi sukuk juga memiliki beberapa jenis, berikut daftarnya:

  • Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan.
  • Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 (empat) tipe.
  • Sertifikat istishna.
  • Sertifikat mugharasa.
  • Sertifikat murabahah.
  • Sertifikat musaqa.
  • Sertifikat musyarakah.
  • Sertifikat muzara’a.
  • Sertifikat salam.

Investasi Syariah Lainnya

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hukum investasi Islam diperbolehkan jika jenis investasinya sesuai dengan ajaran Islam.

Beberapa jenis investasi syariah tersebut antara lain investasi emas, investasi real estate berbasis syariah, simpanan bagi hasil melalui sistem bagi hasil, dan lain-lain.

Singkatnya, jika jenis investasinya sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah, maka umat Islam tentu bisa menginvestasikan modalnya dalam investasi.

 

Pencarian Terkait

Related Articles

Back to top button